HUBUNGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN

                    HUBUNGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN


PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

            Uraian tentang “Hubungan Agama dan Kebudayaan” disusun dan disajikan kepada seluruh kalangan masyarakat, baik masyarakat biasa, pelajar, mahasiswa, guru, para pecinta Agama dan kebudayaan, dan lain sebagainya.

 Uraian ini disajikan dengan tujuan sebagai langkah awal untuk mewujutkan pendidikan pemikiran dan peradapan agama di Indonesia secara terpadu dalam menalaah dan memahami hubungan Agama dan kebudayaan. Dengan tujuan menciptakan suatu peradaban agama di Indonesia yang maju pada masa yang akan datang.

            Untuk sa’at sekarang ini, hubungan antara agama dan kebudayaan sudah mulai ditinggalkan dan sudah tergantikan dengan tred-trend masa kini, yang memudarkan jati diri kehidupan bangsa

            Oleh karena itu, dengan uraian ini diharapkan masyarakat dapat mengembalikan pemikiran dan peradapan agama di Indonesia pada awalnya serta mampu membentuk jati diri kehidupan bangsa yang bermartabat sesuai dengan amanat UU 45 dan Pancasila sebagai landasan dasar Negara Indonesia.

1.      Agama

Agama menurut kkamus besar bahasas Indonesia adalah system atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau disebut dengan Dewa atau nama lain ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

Kata “Agama” berasal dari bahasa sansekerta. Agama yang berarti “tradisi” sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa latin teligio dan berakar pada kata kerja religare yang berarti “mengikat kembali”, maksudnya denganbereligi seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Manusia memiliki kemampuan terbatas. Kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannaya. Menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu baerasal dari dari sumber yang luar biasa pula. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya itu sendiri. Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri yaaitu : menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnaya yaitu berasal dari Tuhan menaati segala ketetapan, aturan hukum dan lain-lain yang diyakini berasal dari Tuhan.

2.      Kebudayaan

Kata kebudayaan berasal dari kata Buddhayah, yaitu bentuk jamak buddhi yang bererti “ Budi atau Akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Tetapi ada serjana lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari mejemuk yang berarti daya dari budi, karena itu mereka membedakan budaya dari kebudayaan.

Kebudayaan dalam bahasa latin atau yunani berasal dari kata “ Cotere “ yang berarti mengolah, mengerjakan terutama mengolah tanah. Dari ini berkembang arti culture sebagai segala daya dan usaha manusia untuk merubah alam. Sedangkan pengertian kebudayaan menurut antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan system gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakkt yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

3.      Hubungan Agama dan Kebudayaan

Agama dan kebudayaan, sering menimbulkan berbagai polemik diantara masyarakat. Ada sesuatu pihak yang menyatakan bahwa agama bukan kebudayaan, sementara pihak yang lain menyatakan agama adalah kebudayaan. Kelompok yang tidak setuju dengan pandangan bahwa agama itu kebudayaan adalah pemikiran bahwa agama itu berasal dari manusia, tetapi datang dari Tuhan, dan sesuatu yang datang dari Tuhan tentu tidak dapat disebut kebudayaan. Kemudian kelompok yang manyatakan bahwa agama adalah kebudayaan, karena praktek agama tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan.

Koentjaraningrat, menggunakan istilah relige secara Universal. Iada berpendapat bahwa relige adalah merupakan bagian dari kebudayaan. Koentjaraningrat, menyimpulkan bahwa komponen sistem kepercayaan, sistem upacara dan kelompok-kelompok religius yang menganut sistem kepercayaan dan menjalankan upacara. Upacara religius, jelas merupakan ciptaan dan hasil karya manusia.

Adapun komponen dalam relige yaitu emosi keagamaan, digetarkan oleh cahaya Tuhan. Relige sebagai suatu sistem merupakan bagian dari kebudayaan tetapi cahaya Tuhan yang mewarnainya dan membuatnya keramat. Pendapat Koentjaraningrat diatas tercermin dalam tiore cultural universalnya, dimana beliau memasukkan relige sebagai isi (bagian) dari kebudayaan.

Wahyu yang menjadi sandaran fundamental, agama datang dari Tuhan akan tetapi realisasinya dalam kehidupan adalah persoalam manusia, dan sepenuhnya terganting dengan lkapasitas diri manusia sendiri, baik dalam hal kesanggupan “ pemikiran Intelektual” untuk memahaminya, maupun kesanggupan dirinya untuk menjalankan kehidupan. Jadi dengan demikian realisasi dan aktualisasi agama sesungguhnya telah memasuki wilayah kebudayaan sehingga agama mau tidak mau menjadi persoalan agama.

Penutup

Kesimpulan

            Setelah penyempaian uraian diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1.      Manusia memiliki kemampuan terbatas. Kesadaran dan pengakuan akan keterbatsannya. Menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumbar yang luar biasa juga yaitu Tuhan sang penguasa alam semesta.

2.      Adanya komponen sistem kepercayaan seperti adanya emosi keagamaan.

3.      Wahyu menjadi sandaran fundamental, agama datang dari Tuhan, akan tetapi realisasinya dalam kehidupan, sepenuhnya tergantung pada kapasitas diri manusia itu sendiri.

Daftar pustaka

Ensiklopedia, Wikipedia Bahasa indonesia, 2010

Google, 2002, pemikiran dan peradapan agama

Koentjaraningrat, 2000. Pengantar ilmu antropologi, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Waridah Q, Siti, 2004. Sosiologi, Bumi Aksara, Jakarta.

           

Terima kasih semoga bermampaat ya…


Comments

Popular posts from this blog

Bantuan Alat Masak Berbasis Listrik dari PT. PLN

Tindak Lanjut Hasil Penanganan Diduga Terjadinya Pelanggaran Tindak Pidana Pemilu

Monitoring Pilkada Provinsi Riau 2024