PEREMPUAN SERTA PROFESIONALISME
PEREMPUAN SERTA PROFESIONALISME
Pendahuluan
Banyak kemajuan dan perubahan yang
didapat oleh perempuan pada sa’at ini dibandingkan beberapa dekade waktu yang
lalu. Terutama peran serta perempuan diperkantoran talah mampu mensejajarkan
diri dengan para laki-laki baik itu ditinjau dari segi intelektualitas dan
pendidikan, dari segi jenis dan peran profisi yang dilakoni, maupun dalam
bidang politik dan pemerintahan. Kemajuan ini tentu suatu yang pantas disyukuri
dan kita tentunya senang menyaksikannya. Hal itu pertanda bahwa perempuan
sekarang telah dapat diandalkan dalam meningkatkan kesejahraan dan kemakmuran
yang diidam-idamkan.
Permasalahan
Fungsi dan peran perempuan yang
semakin jelas untuk diperhitungkan sedikit banyak memberikan pengaruh dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan. Pengaruh itu terlihat misal dari segi
pendidikan dimana pada anak-anak usia dini yang seharusnya mendapat sentuhan
ibu ternyata tidak mereka dapatkan. Akan tetapi sentuhan itu ditangani oleh
pembantu rumah tangga yang seharusnya tidak memiliki pengalaman dan pengatahuan
yang memadai untuk membangun mental dan psikis sang anak. Pengaruh juga terlihat
didalam kehidupan rumah tangga, intraksi antara seorang ibu dan anak maupun dengan
bapak menjadi jarang dan renggang, hingga seorang anak yang dalam masa-masa
pertumbuhan (menginjak remaja dan pubartas) yang memerlukan perhatian ekstra
dari kedua orang tuanya, tidak terpenuhi secara sepantasnya dan hal itu
menimbulkan masalah yang cukup serius bagi pembentukan kepribadian sang anak
selanjutnya. Persoalan lain yang tak kalah penting juga muncul ketika perempuan
berenteraksi dengan 0rang-orang skitar baik dalam krangka menjalankan
profesinya maupun dalam kesehariannya, sering pendapat godaan yang amat kuat.
Keadaan ini bisa membuat seorang perempuan lepas kontrol dan terperosok pada
kehidupan yang seharusnya tidak dilakukannya seperti perselingkuhan, terjerumus
pada penghambaan materi dan kehidupan duniawi. Belum lagi perseolan kecenderungan
untuk kurang menghormati suami sebagai kepala rumah tangga manakala perempuan
merasa dirinya dan profisi yang dilakuninya lebih hebat dari sang suami,
sehingga pada gilirannya mendatangkan benturan-benturan yang berujung pada
perceraian dan terlantarnya anak-anak yang seharusnya harus dibina, dididik
dengan benar dan dibesarkan dalam bahtera rumah tangga penuh kasih sayang.
Analisis/ Pembahasan
Profosionalisme merupakan kata yang
akrab didengar telinga. Hampir semua kalangan membicarakannya terutama bagi kelas
elit dan menengah. Karena seseorang dihargai, dihormati dan dikagumi terkadang
dipandang dari sudut keprofisionalismenya orang tersebut. profosionalisme
secara sederhana dapat dimaknai bahwa sesorang yang memiliki keahlian dan
menjadi pekerjaan yang digeluti dan dijalankannya sehari-hari kemudian keahlian
dan pekerjaan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, benar, cekatan dan mahir
sehingga memberikan kepuasan dan kekaguman orang-orang sekitarnya baik yang
menggunakan jasanya secara langsung yang merasakan dampak dari hasil pekerjaan
dan keahlian tersebut maupun orang–orang yang mendengar,melihat dan mengamati
cara orang tersebut menjalankan pekerjaan atau profisinya itu. Dengan kepuasan
yang dirasakan oleh seorang pengguna jasa dari profesi yang dimilikinya, secara
perlahan dan pasti membentuk citra positif
dan mengangkat harkat dan martabat orang yang memiliki kharisma dalam
profesionalismenya itu.
Perempuan terlebih dimasa-masa
sekarang ini bukanlah sama eksistensinya dengan perempuan-perempuan dimasa lalu
terutama dilihat dari sisi profosionalisme yang melekat dalam diri seorang
perempuan. Dahulu profesi seorang perempuan hampir tidak bisa dimaknai memiliki
peran dan arti strategis dalam memberikan kontribusi nyata baik secara ekonomi
( mampu menopang bahkan dan bahkan mampu menjadi tulang punggung keluarga)
ataupun secara sosial (mengangkat citra, harkat dan martabat diri dan
keluarga). Profesi perempuan dahulu sering digunakan sebagai profesi babu dan
pelayan bagi suaminya. Istilah lingkaran kungkungan situasi yang membelit diri
seorang perempuan terutama perempuan ibu rumah tangga sering diistilahkan
dengan kisaran pekerjaan sekitar kasur, sumur dan dapur. Jenis-jenis pekerjaan
tersebut seolah-olah telah disepakati oleh semua orang sebagai pekerjaan yang
menjadi domainnya perempuan. Sebuah pengistilahan yang kalu, direnung jauh dan
mendalam cukup menoreh luka dan memedihkan untuk orang makhluk Tuhan yang
sebenarnya telah dilahirkan dalam keadaan bebas, merdeka dan digayuti hak untuk
mereguk segala kebaikan dan kenikmatan hidup secara wajar melalui bimbingan
nilai-nilai Agama dan nilai-nilai kebenaran. Namun fakta sering mempertontonkan
kepada kita, kehidupan yang dialami dan dijalani seorang perempuan tidak lebih
berkutat dengan masalah kehidupan didapur menyiapkan makan bagi suami dan
anaknya, pelayanan ekstra dikasur dan kerja-kerja basah disumur.
Sekarang ini, seiring lajunya
perkembangan teknologi sejatinya teknologi yang memproduksi peralatan-peralatan
elektronik rumah tangga seperti mesin cuci, kompor gas, kulkas, pompa air,
satrikaan dan lain sebagainya, maka kerja-kerja yang menjadi “domainnya”
perempuan tersebut (terutama sumur dan dapur) dapat diatasi dalam arti kata
kerja-kerja berat tersebut dapt dilakukan dengan mudah, cepat dan tidak menguras
tenaga.
Sa’at ini perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi komonikasi dan informasi serta pembangunan nasional
dibidang kesehatan dan pendidikan telah memberi ruang ya ng besar untuk
perempuan mengenyam pendidikan dan kemudian berkiprah, mengeksplorasi kemampuan
daya pikir dan kreatifitas yang dipunyai ternyata mampu secara berlahan-lahan
mampu mengimbangi laki-laki dan mampu berkontribusi bagi kemajuan kehidupan
disegala bidang. Perempuan diakui banyak kalangan memiliki keunggulan dalam
menjalankan profisinya. Banyak interpreneur lebih menyukai tenaga perempuan
untuk kerja-kerja yang membutuhkan kecekatan dan ketelitian, seperti merketing,
akutansi, perbankan, administrasi dan bahkan manajemen. Wanita dipandang lebih
telaten, tekun dan sungguh-sungguh dalam menghayati pekerjaannya sehingga
memberikan efek positif bagi perusahaan dan kemajuan usaha. Sehingga tidak
mengherankan sa’at ini, sebagian besar tenaga kerja yang dipakai
diperkantoran-perkantoran lebih banyak tenaga kerja perempuan dibanding
laki-laki, selain itu seorang perempuan memiliki daya pikat luar biasa bagi
orang-orang yang berinteraksi dengan dirinya. Perempuan dengan talenta dan
dengan dukungan fisik yang lembut dan menawan mampu mendatangkan efek senang,
nyaman dan gembira bagi orang-orang yang bekerja dengannaya. Hal ini meski
belum dilakukan penelitian secara pasti namun diakui banyak kalangan, secara
langsung maupun tidak langsung mampu meningkatkan motivasi kerja dan berujung
kepada meningkatnya produktivitas.
Namun apapun kemajuan dan prestasi
yang telah diraih oleh seorang perempuan berkat kemampuan dan profesi yang
dijalaninya, semua itu tidak akan menjadi berarti ketika seorang perempuan
tidak mampu memerankan tugas dan tugas yang penting yang sejatinya menjadi hal
pokok dan tugas utama bagi dirinya. Tugas itu adalah membimbing, mendidik dan
memberikan anak-anaknya dalam simpul kasih sayang bersama suaminya terkasih
yang ia hormati dan teladani. Menggiring bahtera rumah tangga sebagai amanah
untuk mencapai kebahagiaan dan kebaikan dengan menyadarinya sebagai langkah
awal tapi penentu bagi perjalanan kehidupan selanjutnya yang abadi dan kekal. Karena
itu ketika seorang perempuan terjebak pada kecintaannya yang sangat mendalam
kepada profisinya sehingga mengabaikan sandi-sandi penting kehidupan rumah
tangganya, maka segala pencapaiannya dalam profesionalismenya itu sangat
sia-sia adanya. Hidupnya akan tersa kering dan fatamorgana, selalu akan berada
dalam kegalauan yang tak berujung karena mencari dan menginginkan sesuatu yang
sebenarnya semu. Sebab sesungguhnya profisi dan profisionalisme sebenarnya
hanyalah sebuah alat dan tidak patut dijadikan tujuan.
Sebab itu, pesan yang hendak
disampaikan kepada seorang perempuan termasuk juga siapapun harus sadar bahwa
keseimbangan dalam kehidupan adalah suatu yang sangat diperlukan. Melebih-lebihkan
sesuatu diatas yang lain dalam kehidupan akan mendatangkan ketidak baikan, apalagi
mengasampingkan nilai-nilai agama dan nilai-nilai kebenaran. Hanya nilai-nilai
agama yang benar yang membuat profesi dan prestasi yang dimiliki seorang
perempuan bernilai dimata manusia dan dimata Tuhan. Karena nilai-nilai religi
mengajarkan tidak terlalu mencintai duniawi termasuk mencari secara berlebihan
profesi yang dianugrahkan Tuhan kepada dirinya. Kesadaran menjalankan
profesinya sebagai amanah dan dalam krangka ibadah akan menjadikan seseorang
lebih bersikap profesionalisme. Sebaliknya seseorang yang berupaya bersikap
profisionalisme tapi mengabaikan nilai-nilai kepatuhan dan kewajaran, maka
profisionalisme yang melekat pada dirinya hanya berharga dimata sebagian orang
yakni orang-orang yang sama-sama terlalu kuat cintanya kepada dunia. Baginya profesi
dan profisionalisme adalah segala-galanya seolah-olah ia akan hidup selamanya,
tanpa mampu dia menyadari bahwa kalau Tuhan sudah berkehendak, seketika saja
seseorang itu akan tercabut dari apa-apa yang ia banggakan itu. “Bekerjalah
engkau dengan sungguh-sungguh (junjung tinggi profisionalisme) seolah kamu
hidup untuk selamanaya. Tapi beribadahlah mulai sekarang seolah-olah besok kamu
akan mati (al-hadist)”.
Penutup
Demikianlah
uraian singkat ini disampaikan sebagi bagian dari penyadaran menjalani
kehidupan dunia, agar manusia terutama perempuan tidak terjebak pada pengagungan
profesi dan profisionalisme yang dimiliki. Agar hal-hal yang lainnya yang juga
sangat penting dapat dikerjakan juga. Keluarga, anak, dan suami sebagai bagian
dari keluarga adalah juga tanggung jawab perempuan dalam hal ini seorang istri.
Menjalani profesi dan menjadi seorang profisionalisme harus diposisikan sebagai
bagian dari menjalani misi kehidupan yang sebenarnya yakni menjadi manusia yang
terbaik didalam kehidupan dunia dan akhirat.
Comments
Post a Comment